×

Tekan Enter untuk mencari

Sejarah & Perjalanan

Mengakar Kuat,
Menjulang Tinggi

Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) hadir sebagai garda terdepan pelajar NU, mencetak kader yang berilmu, berakhlak mulia, dan berwawasan kebangsaan sejak 1954.

Sejarah IPNU

24 Feb

1954 / 1373 H

Lahir di Semarang

Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) didirikan sebagai respons atas kebutuhan adanya organisasi pelajar yang berhaluan Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja). Lahir di Semarang, Jawa Tengah, pada momen bersejarah Konferensi Besar LP Ma'arif NU.

Tujuannya jelas: menyatukan berbagai organisasi pelajar NU lokal yang kala itu terpecah-pecah, menjadi satu wadah kaderisasi yang solid.

  • Wadah Kaderisasi Pelajar & Santri
  • Benteng Aswaja An-Nahdliyah

Tokoh Perintis

Sosok visioner yang meletakkan batu pertama perjuangan.

M. Tolchah Mansoer
Ketua Umum Pertama
Malang / Yogyakarta
M. Syufjan Cholil
Tokoh Pendiri
Mahasiswa UGM
Mustahal
Tokoh Pendiri
Solo
Abdul Ghony Farida
Tokoh Pendiri
Semarang

Dinamika Perubahan

Perjalanan panjang menjaga amanah dan adaptasi zaman.

1954
Kelahiran IPNU

Berdiri resmi pada 24 Februari 1954 di Semarang melalui Konferensi Besar Ma'arif NU. Menjadi tonggak awal pergerakan pelajar NU secara nasional.

1988
Era "Ikatan Putra"

Pada Kongres ke-9 di Jombang, akibat tekanan UU Keormasan Orde Baru (Asas Tunggal), IPNU mengubah kepanjangannya menjadi Ikatan Putra Nahdlatul Ulama. Fokus meluas ke kepemudaan.

2003
Kembali ke Khittah

Pada Kongres ke-14 di Surabaya, IPNU kembali ke nama aslinya: Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama. Momentum ini menandai tekad untuk kembali menggarap basis utama: Sekolah, Pesantren, dan Kampus.

Landasan Perjuangan

01
Wadah Pendidikan

Sarana pengembangan potensi intelektual dalam bingkai pendidikan Islam.

02
Kaderisasi Bangsa

Mencetak pemimpin masa depan yang bertakwa, berilmu, dan berwawasan kebangsaan.

03
Benteng Aswaja

Menjaga nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah yang moderat.

04
Penguat Ukhuwah

Mempererat persaudaraan sesama pelajar (Wathoniyah & Islamiyah).